pesan Umar

 

budjubahstatueafRedPESAN UMAR BIN KHATAB

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Dalam sepucuk surat yang dikirimkannya kepada Abu Musa al-Asy’ari, Khalifah Umar bin Khatab r.a, menulis sebagai berikut : Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Dari Abdullah (hamba Allah), Umar bin Khathtab Amirul Mukminin kepada Abdullah bin Qais : Salaamullah ‘alaik (Salam sejahtera semoga tetap dilimpahkan oleh Allah atas mu). Amma ba’du “Sesungguhnya peradilan itu adalah kewajiban yang sangat ditekankan dan sunnah yang harus di-ikuti. Maka curahkanlah segenap daya pikir untuk memahami berbagai masalah bila tugas peradilan diamanatkan kepada anda, karena sesungguhnya tidaklah bermanfaat membicarakan kebenaran tanpa realisasi. Sejajarkan hak semua orang dihadapanmu, didalam peradilan dan tempat persidanganmu, sehingga orang yang kaya dan mempunyai kelebihan tidak berkeinginan untuk mengincar apa yang menjadi kesenanganmu, sementara yang lemah tidak akan merasa putus asa dengan keadilanmu.

 

Bukti atas suatu tuduhan wajib ditunjukkan oleh pihak penuduh, sementara sumpah itu wajib diberikan oleh pihak yang menolak tuduhan tersebut. Perdamaian dikalangan umat Islam itu dibolehkan selama perdamaian itu tidak menghalalkan perkara yang haram atau mengharamkan yang halal. Tidak ada salahnya anda mengkaji ulang secara rasio serta mempertimbangkannya berdasarkan pengetahuan anda terhadap keputusan yang telah anda putuskan pada hari ini untuk mencapai suatu kebenaran. ; Karena sesungguhnya kebenaran itu sudah ada sejak dahulu, sementara kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada berkepanjangan dalam suatu kesalahan. Pahamilah segala apa yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta segala yang meragukan hatimu ! Ketahuilah akan hal-hal serupa dan sepadan, lalu dalam kondisi seperti ini, kiaskan dengan hal-hal yang sepadan. Dan laksanakanlah apa yang paling mendekatkan kepada Allah dan mendekati kebenaran.

ayatolbud

Berikan tenggang waktu yang cukup bagi orang yang mengaku punya hak atau bukti, dimana pada saat dilaksanakannya peradilan hak atau bukti tersebut belum dapat ditunjukkan sampai ia sanggup memberikannya. Bila ia mampu memberikan bukti, maka berikanlah hak itu kepadanya, akan tetapi, bila ia tidak bisa memberikan bukti, maka dengan demikian anda boleh melakukan keputusan hukum. Cara demikian bertujuan untuk menghindar dari keraguan dan berusaha memberi keterangan kepada orang-orang yang tidak mengerti.

” Dalam suatu peristiwa lain, Khalifah Umar bin Khatab r.a, berbicara dihadapan masyarakat Islam yang isinya : “Wahai umat manusia, sesungguhnya aku tidak mengutus para gubernur kepada kalian untuk memukul dan mengambil harta kekayaan kalian. Akan tetapi aku mengutus mereka adalah untuk mengajarkan kepada kalian agama dan sunnah Nabi Saw. Barangsiapa diantara kalian diperlakukan dengan perlakuan yang menyimpang dari tugas mereka sebenarnya, maka silahkan melaporkannya kepadaku. Demi dzat yang diri Umar ada ditangan-Nya, sungguh aku akan meng-qishas-nya (membalas dengan hukuman yang sama) !” Amr bin Ash kemudian mengajukan pertanyaan : “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana pendapat tuan jika ada seorang pemimpin dari umat Islam yang melakukan pelanggaran terhadap rakyat, sementara ia telah berjasa membina rakyat, lalu apakah tuan juga akan meng-qishas-nya ?” Khalifah Umar menjawab : “Demi dzat yang diri Umar ada ditangan-Nya, sungguh ia tetap akan ku qishas, lalu bagaimana aku tidak meng-qishas-nya, sedangkan pernah kulihat Rasulullah Saw melakukan qishas terhadap diri beliau sendiri ? Perlu kalian ketahui, janganlah kalian memukul orang Islam yang dengan demikian kalian telah melakukan pelecehan terhadap mereka. Dan janganlah kalian memuji mereka, karena dengan pujian kalian itu, berarti telah mencelakakan mereka, dan janganlah menghalang-halangi hak mereka yang berakibat akan ditentang oleh mereka; dan janganlah menempatkan mereka ditempat yang tidak layak, karena yang demikian itu berarti telah menyia-nyiakan mereka.”

 

Catatan Pembodohan Atas Peran Islam

8th century   tadarus-

700s – [petroleum; civil engineering] The streets of the newly constructed Baghdad are paved with tar, coming from the petroleum that oozes in natural oil fields in the region.

700s – 800s [cosmetics] Ziryab (Blackbird) starts a beauty institute in Spain.

740 – 828 – Al-Ama’i, Zoology, Botany, Animal husbandry.

770 – 840 – [mathematics] Kharazmi , developed the “Calculus of resolution and juxtaposition” (hisab al-jabr w’al-muqabala), more briefly referred to as al-jabr, or algebra, gives an idea on the utility of this development: “Algebra was a unifying theory which allowed rational numbers, irrational numbers, geometrical magnitudes, etc., to all be treated as “algebraic objects”. It gave mathematics a whole new development path so much broader in concept to that which had existed before, and provided a vehicle for future development of the subject. Another important aspect of the introduction of algebraic ideas was that it allowed mathematics to be applied to itself in a way which had not happened before.
Al-Khwarizmi’s successors undertook a systematic application of arithmetic to algebra, algebra to arithmetic, both to trigonometry, algebra to the Euclidean theory of numbers, algebra to geometry, and geometry to algebra. This was how the creation of polynomial algebra, combinatorial analysis, numerical analysis, the numerical solution of equations, the new elementary theory of numbers, and the geometric construction of equations arose.”

Late 700s – 800 – [musical science] Mansour Zalzal of Kufa. Musician (luth) and composer of the Abbasid era. Contributed musical scales that were later named after him (the Mansouri scale) and introduced positions (intervals) within scales such as the wasati-zalzal that was equidistant from the alwasati alqadima and wasati al-fors. Made improvements on the design of the luth instrument and designed the Luth. Teacher of Is-haq al-Mawsili.
715 – 800 [chemistry] Geber (Jabir ibn Hayyan), a Muslim chemist, is considered the father of chemistry, for introducing the experimental scientific method for chemistry, as well as the alembic, still, retort, pure distillation, liquefaction, crystallisation, purification, oxidisation, evaporation, and filtration.He was also the first chemist known to produce sulfuric acid, as well as many other chemical substances and laboratory instruments. His works include The elaboration of the Grand Elixir, The chest of wisdom in which he writes on nitric acid, Kitab al-Istitmam (translated to Latin later as Summa Perfectionis), and many others.

715 – 800 [alchemy] Geber, also a Muslim alchemist, introduces thpikibude first theories on the transmutation of metals, the philosopher’s stone, and the artificial creation of life in the laboratory.

715 – 800 [glass] Geber wrote on adding colour to glass by adding small quantities of metallic oxides to the glass, such as manganese dioxide (magnesia). This was a new advancement in the glass industry unknown in antiquity.
9th century
800 – 868 – [biology, language, linguistics, zoology] ‘Amr ibn Bahr al-Jahiz wrote a number of works on zoology, Arabic grammar, rhetoric, and lexicography. His most famous work is the Book of Animals, in which he was the first to discuss food chains,and was an early adherent of environmental determinism, arguing that the environment can determine the physical characteristics of the inhabitants of a certain community and that the origins of different human skin colors is the result of the environment. He was also the first to describe the struggle for existence and an early theory on evolution by natural selection.

800 – 873 -Ibn Ishaq Al-Kindi (Latinized, Alkindus.) Philosophy, Physics, Optics, Medicine, Mathematics, Cryptography, Metallurgy. Worked at the House of Wisdom which was set up in 810. He introduces quantification into medicine in his De Gradibus.

810 Bayt al-Hikma (House of Wisdom) set up in Baghdad. There Greek and Indian mathematical and astronomy works are translated into Arabic.

820 – [mathematics] Mahani (full name Abu Abdollah Muhammad ibn Isa Mahani – in Arabic Al-Mahani). Conceived the idea of reducing geometrical problems such as duplicating the cube to problems in algebra.
836 – 901 [anatomy; astronomy; mathematics; mechanics] Born Thabit Ibn Qurra (Latinized, Thebit.) Studied at Baghdad’s House of Wisdom under the Banu Musa brothers. Made many contributions to mathematics, particularly in geometry and number theory. He discovered the theorem by which pairs of amicable numbers can be found; i.e., two numbers such that each is the sum of the proper divisors of the other. Later, al-Baghdadi (b. 980) and al-Haytham (born 965) developed variants of the theorem.

838 – 870 – Tabari (full name: Ali ibn Sahl Rabban Al-Tabari). Medicine, Mathematics, Calligraphy, Literature.

mid 800s – [chemistry] Al-Kindi writes on the distillation of wine as that of rose water and gives 107 recipes for perfumes, in his book Kitab Kimia al-`otoor wa al-tas`eedat (book of the chemistry of perfumes and distillations.)

850 – 930 [mathematics] born Abu Kamil of Egypt (full name, Abu Kamil Shuja ibn Aslam ibn Muhammad ibn Shuja) Forms an important link in the development of algebra between al-Khwarizmi and al-Karaji. Despite not using symbols, but writing powers of x in words, he had begun to understand what we would write in symbols as .
852 – [aviation, flight] Abbas Ibn Firnas (Armen Firman) made the first successful parachute fall using a huge wing-like cloak to break his fall, near Córdoba, Spain.

858 – 929 – [astronomy – mathematics] Al-Battani (Albategnius) Works on astronomy, trigonometry etc.

860 – Al-Farghani (Al-Fraganus) Astronomy, Civil engineering.
864 – 930 – [chemistry; medicine] Razi (Rhazes) Medicine, Ophthalmology, Smallpox, Chemistry, Astronomy. Al-Razi wrote on Naft (naphta or petroleum) and its distillates in his book “Kitab sirr al-asrar” (book of the secret of secrets.) When choosing a site to build Baghdad’s hospital, he hung pieces of fresh meat in different parts of the city. The location where the meat took the longest to rot was the one he chose for building the hospital. Advocated that patients not be told their real condition so that fear or despair do not affect the healing process. Wrote on alkali, caustic soda, soap and glycerine. Gave descriptions of equipment processes and methods in his book Kitab al-Asrar (book of secrets) in 925.

870 – 950 – Farabi (Al-Pharabius): early Islamic philosophy, early Muslim sociology, logic in Islamic philosophy, political science, and musical science.

875 – [aviation, flight] Abbas Ibn Firnas made the first flight in a hang glider with artificial wings, but his landing was unsuccessful.
888 – [various] Abbas Ibn Firnas died. Mechanics of Flight, Planetarium, Artificial Crystals. Ibn Firnas investigated means of flight and was apparently injured due to a trial in which he attempted to fly off of a cliff using wings. One of the earliest records of attempts at flight.

800s – [chemistry; petroleum] Oilfields in Baku, Azerbaijan, generate commercial activities and industry. These oilfields, were wells are dug to get the Naft (or naphta, or crude petroleum) are described by geographer Masudi in the 10th century and by Marco Polo in the 13th century, who described the output of those wells as hundreds of shiploads.
10th century
900s [mathematics; accounting] By this century, three systems of counting are used in the Arab world. Finger-reckoning arithmetic, with numerals written entirely in words, used by the business community; the sexagesimal system, a remnant originating with the Babylonians, with numerals denoted by letters of the arabic alphabet and used by Arab mathematicians in astronomical work; and the Hindu-Arabic numeral system, which was used with various sets of symbols . Its arithmetic at first required the use of a dust board (a sort of handheld blackboard) because “the methods required moving the numbers around in the calculation and rubbing some out as the calculation proceeded.” Al-Uqlidisi (born 920) modified these methods for pen and paper use [1]. Eventually the advances enabled by the decimal system led to its standard use throughout the region and the world.

903 – 986 [astronomy] Al-Sufi (Latinized name, Azophi).

920 [mathematics] Born al-Uqlidisi. Modified arithmetic methods for the Indian numeral system to make it possible for pen and paper use. Hitherto, doing calculations with the Indian numerals necessitated the use of a dust board as noted earlier.

936 – 1013 [medicine] Al-Zahrawi (Latinized name, Albucasis) Surgery, Medicine. Called the “Father of Modern Surgery.”

940 – 997 [astronomy; mathematics] Muhammad Al-Buzjani. Mathematics, Astronomy, Geometry, Trigonometry.
940 [mathematics] Born Abu’l-Wafa al-Buzjani. Wrote several treatises using the finger-counting system of arithmetic, and was also an expert on the Indian numerals system. About the Indian system he wrote: “[it] did not find application in business circles and among the population of the Eastern Caliphate for a long time.” Using the Indian numeral system, abu’l Wafa was able to extract roots.

953 [mathematics] Born al-Karaji of Karaj and Baghdad (full name, Abu Bekr ibn Muhammad ibn al-Husayn Al-Karaji or al-Karkhi). Believed to be the “first person to completely free algebra from geometrical operations and to replace them with the arithmetical type of operations which are at the core of algebra today. He was first to define the monomials x, x2, x3, … and 1 / x, 1 / x2, 1 / x3, … and to give rules for products of any two of these. He started a school of algebra which flourished for several hundreds of years” . Discovered the binomial theorem for integer exponents. [1] states that this “was a major factor in the development of numerical analysis based on the decimal system.”

957 [geography; cartography; exploration; chemistry] died Abul Hasan Ali Al-Masudi, best known as a cartographer, was also a traveler historian, etc. Al-mas`oudi described his visit to the oilfields of Baku. Wrote on the reaction of alkali water with zaj (vitriol) water giving sulphuric acid.
965 – 1040 [mathematics; optics; physics] Born ibn al-Haitham (full name, ; Latinized name, Alhazen). Possibly the first to classify all even perfect numbers (i.e., numbers equal to the sum of their proper divisors) as those of the form 2k – 1(2k – 1) where 2k – 1 is prime number .

Al-Haytham is also the first person to state Wilson’s theorem. if p is prime than 1 + (p – 1)! is divisible by p.says “It is called Wilson’s theorem because of a comment by Waring in 1770 that John Wilson had noticed the result.There is no evidence that Wilson knew how to prove it. It was over 750 years later that Lagrange gave the first known proof to the statement in 1771.

972 – 1058 [humanities] Al-Mawardi (Alboacen) Political science, Sociology, Jurisprudence, Ethics.

973 – 1048 [mathematics; physics] Abu Raihan Al-Biruni; Astronomy, Mathematics. Determined Earth’s circumference.
980 [mathematics] Born al-Baghdadi (full name, ). Studied a slight variant of Thabit ibn Qurra’s theorem on amicable numbers. Al-Baghdadi also wrote texts comparing the three systems of counting and arithmetic used in the region during this period. Made improvements on the decimal system.
981 – 1037 [astronomy; mathematics; medicine; philosophy] Ibn Sina (Avicenna); Medicine, Philosophy, Mathematics, Astronomy. Is considered to be the father of modern medicine

994 – [astronomy, engineering] Abu-Mahmud al-Khujandi constructs the first astronomical sextant in Ray, Iran.

1000 – [physics, engineering] Ibn Yunus publishes his astronomical treatise Al-Zij al-Hakimi al-Kabir in Egypt.

1000 – [physics, mathematics] Abu Sahl al-Quhi (Kuhi), discovers that the heaviness of bodies vary with their distance from the center of the Earth, and solves equations higher than the second degree.

1000 – [mathematics] Abu-Mahmud al-Khujandi first states a special case of Fermat’s last theorem.
1000 – [mathematics] Law of sines is discovered by Muslim mathematicians, but it is uncertain who discovers it first between Abu-Mahmud al-Khujandi, Abu Nasr Mansur, and Abu al-Wafa.
1000 – [mathematics] Al-Karaji writes a book containing the first known proofs by mathematical induction. He who used it to prove the binomial theorem, Pascal’s triangle, and the sum of integral cubes. He was “the first who introduced the theory of algebraic calculus.”

1000 – [medicine, surgery, engineering] Abu al-Qasim al-Zahrawi (Abulcasis), the DOMEfather of modern surgery, publishes his 30-volume medical encyclopedia, the Kitab al-Tasrif, which remains a standard textbook in Muslim and European universities until the 16th century. The book first introduced the plaster, inhalant anesthesia, and many surgical instruments, including the first instruments unique to women,as well as the surgical uses of catgut and forceps, the ligature, surgical needle, scalpel, curette, retractor, surgical spoon, sound, surgical hook, surgical rod, specula and bone saw.
11th century
1000s – [astronomy, engineering] Ibn Samh invents the mechanical astrolabe in al-Andalus.

1000s – The glass mirror is invented in al-Andalus.

1000 – 1030 – [arithmetic, astronomy, earth sciences, geology, geometry, logic, mathematics, music, natural sciences, philosophy, psychology] Avicenna (Ibn Sina) writes one of the first scientific encyclopedias, The Book of Healing. Its contributions include nine volumes on Avicennian logic; eight on the natural sciences; four on the quadrivium of arithmetic, astronomy, geometry and music; a number of volumes on early Islamic philosophy, Islamic mathematics, metaphysics and psychology; the astronomical theory that Venus is closer to Earth than the Sun; and a geological hypothesis on two causes of mountains.DAGANG

1000 – 1030 – [biology]- Ibn Miskawayh discusses ideas on evolution.

1000 – 1031 – [astronomy] Abu al-Rayhan al-Biruni was the first to conduct elaborate experiments related to astronomical phenomena. He discovered the Milky Way galaxy to be a collection of numerous nebulous stars.

1000 – 1037 – [mechanics, physics] Ibn al-Haytham discusses the theory of attraction between masses, and it seems that he was aware of the magnitude of acceleration due to gravity. Ibn al-Haytham also discovered the law of inertia, known as Newton’s first law of motion, when he stated that a body moves perpetually unless an external force stops it or changes its direction of motion.
1000 – 1037 – [alchemy, chemistry, engineering] Avicenna criticizes the theory of the transmutation of metals.He also invents the chemical process of steam distillation and produces the first essential oils as a result. He also invents the air thermometer for use in his laboratory experiments.

1000 – 1037 – [mechanics, physics] Avicenna, the father of the fundamental concept of momentum in physics, discovered the concept of momentum, when he referred to impetus as being proportional to weight times velocity, a precursor to the concept of momentum in Newton’s second law of motion. His theory of motion was also consistent with the concept of inertia in Newton’s first law of motion.

1000 – 1038 – [astronomy, physics] Ibn al-Haytham (Alhacen), in his Epitome of Astronomy, was the first to insist that the heavenly bodies “were accountable to the laws of physics”.

1000 – 1038 – [biology] Ibn al-Haytham writes a book in which he argues for evolutionism.

1000 – 1048 – [alchemy, chemistry] Abu Rayhan al-Biruni criticizes the theory of the transmutation of metals.
1000 – 1048 – [anthropology, Indology, history] Abu al-Rayhan al-Biruni, considered “the first anthropologist” and the father of Indology,wrote detailed comparative studies on the anthropology of peoples, religions and cultures in the Middle East, Mediterranean and South Asia. Biruni’s anthropology of religion was only possible for a scholar deeply immersed in the lore of other nations. Biruni has also been praised for his Islamic anthropology.

1000 – 1048 – [earth sciences, Indology, geodesy, geology] Abu Rayhan al-Biruni, who is considered the father of Indology, the father of geodesy, one of the first geologists, and an influential geographer, hypothesized that India was once covered by the Indian Ocean while observing rock formations at the mouths of rivers,introduced techniques to measure the Earth and distances on it using triangulation, and measured the radius of the Earth as 6339.6 km, the most accurate up until the 16th century.

1000 – 1048 – [engineering, mechanics, physics] Abu Rayhan al-Biruni, was the first to realize that acceleration is connected with non-uniform motion. He also invents the laboratory flask, Pycnometer, and conical measure.

1019 – [astronomy] In Afghanistan, Abu al-Rayhan al-Biruni observed and described the solar eclipse on April 8, 1019, and the lunar eclipse on September 17, 1019, in detail, and gave the exact latitudes of the stars during the lunar eclipse.
1021 – [optics, physics, engineering, mathematics, ophthalmology, psychology, scientific method, surgery] Ibn al-Haytham, who is considered the father of optics, the pioneer of the scientific method, the “first scientist”, and the founder of psychophysics and experimental psychology, completes his Book of Optics, which has been ranked alongside Isaac Newton’s Philosophiae Naturalis Principia Mathematica as one of the most influential books ever written in the history of physics. The book drastically transformed the understanding of light and vision, and introduced the experimental scientific method, hence the book is considered the root of experimental physics. It correctly explained and proved the modern intromission theory of vision, and described experiments on lenses, mirrors, refraction, reflection, and the dispersion of light into its constituent colours.It also explained binocular vision and the moon illusion, speculated on the finite speed, rectilinear propagation and electromagnetic aspects of light,first stated Fermat’s principle of least time, described an early version of Snell’s law, and argued that rays of light are streams of energy particles travelling in straight lines.The book also contains the earliest discussions and descriptions on psychophysics and experimental psychology,the psychology of visual perception, phenomenology, and the inventions of the pinhole camera, camera obscura, and parabolic mirror. In mathematics, the book formulated and solved “Alhazen’s problem” geometrically, and developed and proved the earliest general formula for infinitesimal and integral calculus using mathematical induction. In medicine and ophthalmology, the book also made important advances in eye surgery, as it correctly explained the process of sight and visual perception for the first time. The work also had an influence on the use of optical aids in Renaissance art and the development of the telescope and microscope.

1020s – [medicine, pathology, physiology] Avicenna, who is considered the father of modern medicine and one of the greatest thinkers and medical scholars in history, publishes his 14-volume medical encyclopedia, The Canon of Medicine, which remains a standard textbook in Muslim and European universities until the 17th century. The book’s contributions to medicine includes the introduction of experimental medicine and clinical trials, the introduction of systematic experimentation and quantification into the study of physiology, the discovery of contagious diseases, the distinction of mediastinitis from pleurisy, the contagious nature of phthisis, the distribution of diseases by water and soil, and the first careful descriptions of skin troubles, sexually transmitted diseases, perversions, and nervous ailments, as well the use of ice to treat fevers, and the separation of medicine from pharmacology, which was important to the development of the pharmaceutical sciences.

1021 – 1037 – [optics, physics] Avicenna “observed that if the perception of light is due to the emission of some sort of particles by a luminous source, the speed of light must be finite.”He also provided a sophisticated explanation for the rainbow phenomenon.
1021 – 1048 – Abu Rayhan al-Biruni stated that light has a finite speed, and he was the first to discover that the speed of light is much faster than the speed of sound.

1025 – 1028 – [astronomy] Ibn al-Haytham, in his Doubts on Ptolemy, criticizes Ptolemy’s astronomical system for relating actual physical motions to imaginary mathematical points, lines, and circles.

1028 – 1087 – [astronomy, engineering] Arzachel (al-Zarqali) invents the “Saphaea”, the first astrolabe that did not depend on the latitude of the observer and could be used anywhere. He also invents the equatorium,and discovers that the orbits of the planets are ellipses and not circles.

1030 – [astronomy] Abu al-Rayhan al-Biruni discussed the Indian planetary theories of Aryabhata, Brahmagupta and Varahamihira in his Ta’rikh al-Hind (Latinized as Indica). Biruni stated that Brahmagupta and others consider that the earth rotates on its axis and Biruni noted that this does not create any mathematical problems.
1030 – 1048 – [astronomy] Abu Said Sinjari suggested the possible heliocentric movement of the Earth around the Sun, which Abu al-Rayhan al-Biruni did not reject. Al-Biruni agreed with the Earth’s rotation about its own axis, and while he was initially neutral regarding the heliocentric and geocentric models, he considered heliocentrism to be a philosophical problem.He remarked that if the Earth rotates on its axis and moves around the Sun, it would remain consistent with his astronomical parameters.

1031 – [astronomy] Abu al-Rayhan al-Biruni completes his extensive astronomical encyclopaedia Canon Mas’udicus, in which he records his astronomical findings and formulates astronomical tables. It presents a geocentric model, tabulating the distance of all the celestial spheres from the central Earth.The book introduces the mathematical technique of analysing the acceleration of the planets, and first states that the motions of the solar apogee and the precession are not identical. Al-Biruni also discovered that the distance between the Earth and the Sun is larger than Ptolemy’s estimate, on the basis that Ptolemy disregarded the annual solar eclipses. Al-Biruni also described the Earth’s gravitation as “the attraction of all things towards the centre of the earth.”

1038 – [astronomy] Ibn al-Haytham described the first non-Ptolemaic configuration in The Model of the Motions. His reform excluded cosmology, as he developed a systematic study of celestial kinematics that was completely geometric. This in turn led to innovative developments in infinitesimal geometry. His reformed model was the first to reject the equant and eccentrics,free celestial kinematics from cosmology, and reduce physical entities to geometrical entities. The model also propounded the Earth’s rotation about its axis, and the centres of motion were geometrical points without any physical significance, like Johannes Kepler’s model centuries later.
1038 – 1075 – [engineering] Ibn Bassal invents a Noria with a flywheel in al-Andalus.

1044 or 1048 – 1123 [mathematics, literature] Omar Khayyam, a mathematician and poet, “gave a complete classification of cubic equations with geometric solutions found by means of intersecting conic sections. Khayyam also wrote that he hoped to give a full description of the algebraic solution of cubic equations in a later work: ‘If the opportunity arises and I can succeed, I shall give all these fourteen forms with all their branches and cases, and how to distinguish whatever is possible or impossible so that a paper, containing elements which are greatly useful in this art will be prepared.’ ” He later became the first to find general geometric solutions of cubic equations and laid the foundations for the development of analytic geometry and non-Euclidean geometry. He extracted roots using the decimal system (Hindu-Arabic numeral system). He is well-known for his poetic work Rubaiyat of Omar Khayyam, but there is dispute whether the Maqamat, a famous diwan of poetry translated to English are actually his work.

1058 – 1111 [law; theology] Al-Ghazali (Algazel), judge and prolific thinker and writer on topics such as sociology, theology and philosophy. He critiqued the philosophers Avicenna and al-Farabi in The Incoherence of the Philosophers. Wrote extensive expositions on Islamic tenets and foundations of jurisprudence. Also critiqued the Muslim scholastics (al-mutakallimun.) Was associated with sufism but he later critiqued it as well.

1070 – [astronomy] Abu Ubayd al-Juzjani proposed a non-Ptolemaic configuration in his Tarik al-Aflak. In his work, he indicated the so-called “equant” problem of the Ptolemic model, and proposed a solution for the problem.
1085 – 1099 – [related] First wave of devastation of Muslim resources, lives, properties, institutions, and infrastructure over a period of one hundred years: Fall of Muslim Toledo (1085), Malta (1090), Sicily (1091) and Jerusalem (1099). This was followed by several Crusades from 1095 to 1291.
12th century
1100 – 1138 – [astronomy] Ibn Bajjah (Avempace) develops the first planetary model without any epicycles, as an alternative to Ptolemy’s model.

1100 – 1138 – [mechanics, physics] Ibn Bajjah (Avempace) is the first to state that there is always a reaction force for every force exerted, a precursor to Gottfried Leibniz’s idea of force which underlies Newton’s third law of motion.[70] His theory of motion later has an important influence on later physicists like Galileo Galilei.

1100 – 1161 – [anatomy, anesthesiology, biology, medicine, physiology, surgery] Ibn Zuhr (Avenzoar) invents the surgical procedure of tracheotomy in al-Andalus. During his biomedical research, Ibn Zuhr is also the first physician known to have carried out human dissections and postmortem autopsy. He proves that the skin disease scabies is caused by a parasite, which contradicted the erroneous theory of humorism supported by Hippocrates, Galen and Avicenna. The removal of the parasite from the patient’s body did not involve purging, bleeding or any other traditional treatments associated with the four humours. His works show that he was often highly critical of previous medical authorities, including Avicenna’s The Canon of Medicine.He was one of the first physicians to reject the erroneous theory of four humours, which dates back to Hippocrates and Galen. Avenzoar also confirmed the presence of blood in the body. He was also the first to give a correct description of the tracheotomy operation for suffocating patients, and the first to provide a real scientific etiology for the inflammatory diseases of the ear, and the first to clearly discuss the causes of stridor. Modern anesthesia was also developed in al-Andalus by the Muslim anesthesiologists Ibn Zuhr and Abulcasis. They were the first to utilize oral as well as inhalant anesthetics, and they performed hundreds of surgeries under inhalant anesthesia with the use of narcotic-soaked sponges which were placed over the face.

1100 – 1161 – [medicine, pharmacopoeia] Ibn Zuhr writes The Method of Preparing Medicines and Diet, in which he performed the first parenteral nutrition of humans with a silver needle. He also wrote an early pharmacopoeia, which later became the first Arabic book to be printed with a movable type in 1491.Ibn Zuhr (and other Muslim physicians such as al-Kindi, Ibn Sahl, Abulcasis, al-Biruni, Avicenna, Averroes, Ibn al-Baitar, Ibn Al-Jazzar and Ibn al-Nafis) also developed drug therapy and medicinal drugs for the treatment of specific symptoms and diseases. His use of practical experience and careful observation was extensive.
1100 – 1165 – [mechanics, physics] Hibat Allah Abu’l-Barakat al-Baghdaadi writes a critique of Aristotelian philosophy and Aristotelian physics entitled al-Mu’tabar. He is the first to negate Aristotle’s idea that a constant force produces uniform motion, as he realizes that a force applied continuously produces acceleration, which is considered “the fundamental law of classical mechanics” and an early foreshadowing of Newton’s second law of motion. Like Newton, he described acceleration as the rate of change of velocity.

1100 – 1166 [cartography, geography] Muhammad al-Idrisi, aka Idris al-Saqalli aka al-sharif al-idrissi of Andalusia and Sicily, also known as Dreses in Latin. Among his works are a world map and the first known globe. He is said to draw the first correct map of the world “lawh al-tarsim” (plank of draught). His maps were used extensively during the explorations of the era of European renaissance. Roger II of Sicily commemorated his world map on a circle of silver weighing about 400 pounds. Works include Nozhat al-mushtaq fi ikhtiraq al-&agrav;faq dedicated to Roger II of Sicily, which is a compendium of the geographic and sociologic knowledge of his time as well as descriptions of his own travels illustrated with over seventy maps; Kharitat al-`alam al-ma`mour min al-ard (Map of the inhabited regions of the earth) wherein he divided the world into 7 regions, the first extending from the equator to 23 degrees latitude, and the seventh being from 54 to 63 degrees followed by a region uninhabitable due to cold and snow.

1105 – 1200 [astronomy] Ibn Tufail (Abubacer) and al-Betrugi (Alpetragius) are the first to propose planetary models without any equant, epicycles or eccentrics. Al-Betrugi was also the first to discover that the planets are self-luminous.

1106 – 1138 [polymath] Abu Bakr Muhammad Ibn Yahya (Ibn Bajjah or Avempace) writes books on philosophy, medicine, mathematics, poetry, and music.

1110 – 1185 [literature, philosophy] Abdubacer Ibn Tufayl of Spain. Philosophy, medicine, poetry, fiction. His most famous work is Hayy ibn Yaqzan, which is a spiritual investigation into the reality of the world narrated by a man who was raised from infancy by a roe or gazelle on a desert island. This work later had a strong influence on early Islamic philosophy, Arabic literature, European literature, the Scientific Revolution, and modern philosophy.

1115 – 1116 [astronomy, engineering] Al-Khazini wrote the Sinjaric Tables, in which he gave a description of his construction of a 24 hour water clock designed for astronomical purposes, an early example of an astronomical clock, and the positions of 46 stars computed for the year 500 AH (1115-1116 CE). He also computed tables for the observation of celestial bodies at the latitude of Merv.The Sinjaric Tables was later translated into Greek by Gregory Choniades in the 13th century and was studied in the Byzantine Empire.

1115 – 1130 [astronomy, biology, chemistry, evolution] Al-Khazini’s Treatise on Instruments has seven parts describing different scientific instruments: the triquetrum, dioptra, a triangular instrument he invented, the quadrant and sextant, the astrolabe, and original instruments involving reflection. He also wrote another work on evolution in chemistry and biology, and how they were perceived by natural philosophers and common people in the Islamic world at the time. He wrote that there were many Muslims who believed that humans evolved from apes.

1121 – [astronomy, astrophysics, engineering, mechanics, physics] Al-Khazini publishes The Book of the Balance of Wisdom, in which he is the first to propose that the gravity and gravitational potential energy of a body varies depending on its distance from the centre of the Earth. This phenomenon is not proven until Newton’s law of universal gravitation centuries later. Al-Khazini is also one of the first to clearly differentiate between force, mass, and weight, and he shows awareness of the weight of the air and of its decrease in density with altitude, and discovers that there is greater density of water when nearer to the Earth’s centre. He also invents several scientific instruments, including the steelyard and hydrostatic balance. Al-Biruni and al-Khazini were also the first to apply experimental scientific methods to the fields of statics and dynamics, particularly for determining specific weights, such as those based on the theory of balances and weighing. He and his Muslim predecessors unified statics and dynamics into the science of mechanics, and they combined the fields of hydrostatics with dynamics to give birth to hydrodynamics. They applied the mathematical theories of ratios and infinitesimal techniques, and introduced algebraic and fine calculation techniques into the field of statics. They were also the first to generalize the theory of the centre of gravity and the first to apply it to three-dimensional bodies. They also founded the theory of the ponderable lever and created the “science of gravity” which was later further developed in medieval Europe. The contributions of al-Khazini and his Muslim predecessors to mechanics laid the foundations for the later development of classical mechanics in Renaissance Europe.

1126 – 1198 – [mechanics, physics] Averroes (Ibn Rushd) is the first to define and measure force as “the rate at which work is done in changing the kinetic condition of a material body” and the first to correctly argue “that the effect and measure of force is change in the kinetic condition of a materially resistant mass.”
1126 – 1198 – [astronomy] Ibn Rushd (Averroes) rejects the eccentric deferments introduced by Ptolemy. He rejects the Ptolemaic model and instead argues for a strictly concentric model of the universe.

1128 – 1198 – [philosophy, law, medicine, astronomy, theology] Averroes writes books on philosophy, law, medicine, astronomy, and theology.

1130 – [mathematics] Born al-Samawal. An important member of al-Karaji’s school of algebra. Gave this definition of algebra: “[it is concerned] with operating on unknowns using all the arithmetical tools, in the same way as the arithmetician operates on the known.”

1135 – [mathematics] Born Sharafeddin Tusi. Follows al-Khayyam’s application of algebra of geometry, rather than follow the general development that came through al-Karaji’s school of algebra. Wrote a treatise on cubic equations which describes thus: “[the treatise] represents an essential contribution to another algebra which aimed to study curves by means of equations, thus inaugurating the beginning of algebraic geometry.”

1135 – 1200 – [astronomy, engineering] Sharaf al-Din al-Tusi invents the linear astrolabe (staff of al-Tusi).

1154 – [engineering] Al-Kaysarani invents the striking clock in Syria.
13th century
1200s – [chemistry] Al-Jawbari describes the preparation of rose water in the Book of Selected Disclosure of Secrets (Kitab kashf al-Asrar).

1200s – [chemistry; materials, glassmaking] Arabic manuscript on the manufacture of false gemstones and diamonds. Also describes spirits of alum, spirits of saltpetre and spirits of salts (hydrochloric acid).

1200s – [chemistry] An Arabic manuscript written in Syriac script gives description of various chemical materials and their properties such as sulfuric acid, sal-ammoniac, saltpetre and zaj (vitriol).

1201 – 1274 – [astronomy; mathematics] Nasir Al-Din Al-Tusi; Astronomy, Non-Euclidean geometry.

1204 – [astronomy] Died, Al-Bitruji (Alpetragius.)

1206 – [engineering, mechanics, technology] Al-Jazari, the father of modern-day engineering and the father of robotics, publishes The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices, in which he authors fifty inventions, including the crank mechanism, connecting rod, programmable automaton, humanoid robot, reciprocating piston engine, suction pipe, suction pump, double-acting pump, valve, combination lock, cam, camshaft, segmental gear, the first mechanical clocks driven by water and weights, and especially the crankshaft, which is considered the most important mechanical invention in history after the wheel. Other devices he invented include a hand washing device, machines for raising water, accurate calibration of orifices, lamination of timber to reduce warping, static balancing of wheels, use of paper models to establish a design, casting of metals in closed mould boxes with green sand, and the most sophisticated water clocks of his time.

1207 – 1273 [sociology; poetry; spirituality] Jalal al-Din Muhammad Rumi, one of the best known Persian passion poets, famous for poignant poetry on the theme of spiritual enlightenment and passion.

1217 – 1329 [related] “Second wave of devastation of Muslim resources, lives, properties, institutions, and infrastructure over a period of one hundred and twelve years. Crusader invasions (1217-1291) and Mongol invasions (1219-1329). Crusaders active throughout the Mediterranean from Jerusalem and west to Muslim Spain. Fall of Muslim Córdoba (1236), Valencia (1238) and Seville (1248). Mongols devastation from the eastern most Muslim frontier, Central and Western Asia, India, Persia to Arab heartland. Fall of Baghdad (1258) and the end of Abbasid Caliphate. Two million Muslims massacred in Baghdad. Major scientific institutions, laboratories, and infrastructure destroyed in leading Muslim centers of civilization.”

1213 – 1242 [anatomy, biology, medicine, pharmacology, pharmacopoeia, physiology] Ibn al-Nafis publishes his Commentary on Compound Drugs, a commentary on Avicenna’s The Canon of Medicine concerning pharmacopoeia. It contains criticisms of Galen’s doctrines on the heart and the blood vessels and dealt with the circulatory system to some extent. This work was later translated into Latin by Andrea Alpago of Belluno (d. 1520), who had lived in Syria for about 30 years before returning to Italy with a collection of medical Arabic books. A printed version of his translation was available in Venice from 1547.

1213 – 1288 [biology, cosmology, epistemology, futurology, geology, literature, physiology, psychology, science fiction, sociology] Ibn al-Nafis publishes his Theologus Autodidactus, the first science fiction novel, where he uses the plot to express many of his own themes on a wide variety of subjects, including biology, physiology, cosmology, epistemology, futurology, geology, natural philosophy, psychology, and sociology. The narrative is used to present religious, philosophical and scientific arguments on spontaneous generation and bodily resurrection, and the book also contains the earliest medical description on metabolism: “Both the body and its parts are in a continuous state of dissolution and nourishment, so they are inevitably undergoing permanent change.”

1213 – 1288 [anatomy, biology, medicine, ophthalmology, physiology] Ibn al-Nafis publishes his ophthalmologic work, The Polished Book on Experimental Ophthalmology, where he discovers that the muscle behind the eyeball does not support the ophthalmic nerve, that they do not get in contact with it, that the optic nerves transect but do not get in touch with each other, and many new treatments for glaucoma and the weakness of vision in one eye when the other eye is affected by disease.

1242 – [anatomy, biology, medicine, physiology, scientific method] Ibn al-Nafis, an Arab physician and anatomist publishes another commentary on Avicenna’s The Canon of Medicine called the Commentary on Anatomy in Avicenna’s Canon, in which Ibn al-Nafis discovers the pulmonary circulation (the cycle involving the ventricles of the heart and the lungs) and coronary circulation, and describes the mechanism of breathing and its relation to the blood and how it nourishes on air in the lungs, for which he is considered the father of circulation theory and one of the greatest physiologists in history.He followed a “constructivist” path of the smaller circulatory system: “blood is purified in the lungs for the continuance of life and providing the body with the ability to work.” During his time, the common view was that blood originates in the liver then travels to the right ventricle, then on to the organs of the body; another contemporary view was that blood is filtered through the diaphragm where it mixes with the air coming from the lungs. Ibn al-Nafis discredited all these views including ones by Galen and Avicenna, and at least an illustration of his manuscript is still extant. William Harvey later explained the circulatory system without reference to Ibn al-Nafis in 1628. Ibn al-Nafis also extolled the study of comparative anatomy in his Explaining the dissection of [Avicenna’s] Canon which includes prefaces and citations of sources. He emphasized the rigours of verification by measurement, observation and experiment. He subjected conventional wisdom of his time to a critical review and verified it with experiment and observation, discarding errors. He was also an early proponent of experimental medicine, postmortem autopsy, and human dissection, and he also discredited many other erroneous Avicennian and Galenic doctrines on the humorism, pulse bones, muscles, intestines, sensory organs, bilious canals, esophagus, stomach, and the anatomy of almost every other part of the human body. Ibn al-Nafis also drew diagrams to illustrate different body parts in his new physiological system.

1242 – 1244 [biology, medicine, surgery, urology, scientific method] Ibn al-Nafis publishes the first 43 volumes of his medical encyclopedia, The Comprehensive Book on Medicine. One volume is dedicated to surgery, where he describes the “general and absolute principles of surgery”, a variety of surgical instruments, and the examination of every type of surgical operation known to him. He states that in order for a surgical operation to be successful, full attention needs to be given to three stages of the operation: the “time of presentation” when the surgeon carries out a diagnosis on the affected area, the “time of operative treatment” when the surgeon repairs the affected organs, and the “time of preservation” when the patient needs to be taken care of by nurses. The Comprehensive Book on Medicine was also the earliest book dealing with the decubitus of a patient. The Comprehensive Book on Medicine is also the earliest book dealing with the decubitus of a patient. Another section is dedicated to urology, including the issues of sexual dysfunction and erectile dysfunction, where Ibn al-Nafis is one of the first to prescribe clinically tested drugs as medication for the treatment of these problems. His treatments are mainly oral drugs, though early topical and transurethral treatments are also mentioned in a few cases.

1242 – 1288 [medicine] Ibn al-Nafis publishes more commentaries on Avicenna’s The Canon of Medicine. All of his commentaries on The Canon of Medicine add up to 20 volumes in length.

1244 – 1288 [medicine] Ibn al-Nafis writes down notes for upcoming volumes of his medical encyclopedia, The Comprehensive Book on Medicine. His notes add up to a total of 300 volumes in length, though he is only able to publish 80 volumes before he dies in 1288.Even in its incomplete state, however, The Comprehensive Book on Medicine is one of the largest known medical encyclopedias in history, and was much larger than the more famous The Canon of Medicine by Avicenna. However, only several volumes of The Comprehensive Book on Medicine have survived into modern times.

1244 – 1288 [anatomy, medicine, science of hadith] Ibn al-Nafis publishes many other works, including The Choice of Foodstuffs which places a greater emphasis on diet and nutrition rather than the prescriptions of drugs; Commentary on Hippocrates’ Aphorisms where he expresses his rebellious nature against established authorities as he states that he has decided to “throw light on and stand by true opinions, and forsake those which are false and erase their traces”; A Short Account of the Methodology of Hadith on the science of hadith; Epitome of the Canon; Synopsis of Medicine; An Essay on Organs; Reference Book for Physicians; among many others.

1248 – [anatomy, botany, pharmacy, veterinary medicine] Ibn al-Baitar dies. He studied and wrote on botany, pharmacy and is best known for studying animal anatomy and medicine. The Arabic term for veterinary medicine is named after him.

1260 [mathematics] Born al-Farisi. Gave a new proof of Thabit ibn Qurra’s theorem, introducing important new ideas concerning factorization and combinatorial methods. He also gave the pair of amicable numbers 17296, 18416 which have also been joint attributed to Fermat as well as Thabit ibn Qurra

1273 – 1331 [astronomy; geography; history] Abu al-Fida (Abulfeda).

1275 – [engineering, rocketry, weaponry] Hasan al-Rammah invents the torpedo in Syria.

1277 – [materials; glass and ceramics] A treaty for the transfer of glassmaking technology signed between the crusader Bohemond VII, titular prince of Antioch and the Doge of Venice leads to the transfer of Syrian glassworkers and their trade secrets and the subsequent rise of Venetian glass industry, the most prominent in Europe for centuries. The techniques henceforth, closely guarded by Venitians only become known in France in the 1600s.

Manipulasi Keilmuan

Muslim, Sang Pewaris

DARK AGES? MasaKegelapan ?

catatan perjalanan

Istilah Dark Ages hanyalah bentuk penyangkalan terhadap sumbangan  ilmu islam terhadap dunia

Sebelum masa Renaissance, masa apakah itu?, Orang Barat menyebutkan

PERIODE KEGELAPAN ? MASA YANG HILANG ?

Jawabnya … TENTU TIDAK !!!

Dark Ages, masa kegelapan yang dimaksud adalah masa kegemilangan Peradaban Islam yang sudah memberikan banyak kontribusi pada dunia hingga saat ini. Sejerah barat tebtang ini tidak lain untuk menghilangkan berbagai peran dalam penemuan oleh Filosof islam bagi dunia science. Berbagai bidang ilmu telah dikembangkan oleh ilmuwan muslim di seantero dunia dengan pusat peradaban yang berada di Baghdad, Spanyol (Andalusia) melalui beberapa periode kekhalifahan yang berlalu.

Saya sengaja membuat  yang terus di update di blog ini dengan Halaman khusus ini saya maksudkan sebagai bahan referensi bagi siapa saja yang ingin belajar dan mengambil banyak hikmah dari sejarah peradaban Islam yang pernah menguasai 2/3 dunia selama > 10 abad !

Cara yahudi membendung Islam adalah memanipulasi hasil temuan-temuan filosof islam me;a;ui tokoh-tokoh Dunia barat yang banyak menutupi bahkan memanipulasi sejarah peradaban dunia yang sebagian besar di bangun dari peradaban Islam. Berbagai hal di dunia ini tak lepas dari penemuan-penemuan yang di temukan dan di ciptakan oleh banyak ilmuwan-ilmuwan muslim.

Sebut saja berbagai bidang seperti fisika, biologi, matematika, astronomi, astrologi, kedokteran, seni, budaya, musik, ekonomi, sosiologi dan banyaak bidang keilmuwan yang di ciptakan dan dibangun oleh ilmuwan-ilmuwan muslim selama -/+ 10 abad lamanya. Dan konsep serta penemuan mereka hingga saat ini masih digunakan bahkan sebagian di klaim sebagai penemuan mereka.

Melalui Baitul Hikmah di Baghdad dan pusat penelitian di Andalusia, Spanyol, kemudian menjadi titik sentral penemuan-penemuan ilmiah berbagai bidang ilmu yang saat ini menjadi rujukan ilmuwan2 dunia. Ironisnya, semua bidang keilmuwan itu semua terangkum apik dalam kitab-kitab maupun manuskrip hasil penelitian para ilmuwan muslim yang saat ini banyak di ‘koleksi’ di perpustakaan-perpustakaan di Eropa & Amerika. Bagaimana dengan pewaris sesungguhnya, yaitu kita ummat muslim ? Kita hanya bisa menjadi penonton dan pengagum dari hasil ciptaan ilmuwan-ilmuwan barat, that’s all. Dan ironisnya lagi hasil-hasil penemuan yg kita nikmati tersebut merupakan pengembangan dari apa yang sudah ditemukan oleh ilmuwan muslim sebelumnya.

Ummat muslimlah yang seharusnya mewarisi dan meneruskan berbagai ilmu dan hasil ciptaan ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu. Tapi bagaimana faktanya saat ini? Kita hanya menjadi konsumen dan bukan produsen. Pengagum dan bukan yang dikagumi. Penikmat dan bukan yang menciptakan.

Kitalah ummat muslim yang semestinya memberikan kontribusi selanjutnya bagi kemashlahatan ummat manusia karena sejatinya Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam…Rahmatan lil alamin.

Bahkan 2/3 kosa kata bahasa Indonesia dan bahasa melayu itu merupakan kosa kata serapan dari bahasa arab, bahasa alqur’an yang memang sengaja dikembangkan oleh para ulama terdahulu untuk mempermudah dakwah di tanah air ini. Dan saat ini semua istilah dan kosa kata di masyarakat kitapun telah bergeser bahkan secara tidak langsung diganti secara perlahan dengan kosa kata yang kebarat-baratan.

Ironis…

Namun demikian, kita tidak boleh lengah dan minder, justru kita mesti lebih giat lagi menggali berbagai bidang keilmuwan dan menumbuhkan semangat akan cinta alqur’an di dalam keluarga guna mencetak generasi penerus yang faqih dan qur’ani agar nantinya bisa mencetak ilmuwan-ilmuwan baru yang qur’ani dan memberi manfaat bagi ummat. Karena sejatinya, sebagian besar ilmuwan-ilmuwan muslim yang berjaya di masa kejayaan Islam itu adalah para penghafal dan pengkaji alqur’an, menjadikan alqur’an sebagai dasar rujukan berbagai bidang keilmuwan secara ilmiah. Karena sejatinya Islam bukan hanya ibadah ritual saja…tapi lebih dari itu, merupakan pedoman dan petunjuk bagi seluruh manusia di seluruh bidang kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak.

Wallahu’alam…

Posted in Khazanah IslamWhat’s on my mind. Tagged dunia islamilmuwan muslimislamperadaban islamrenunganwarisan islam.

Ibnu Khaldun, Bapak Ekonomi & Sosiologi

ibn khal

Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Ekonomi & Sosiologi Islam’. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buah pikirnya amat berpengaruh. Sederet pemikir Barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Laffermengagumi pemikirannya.

Tak heran, pemikir Arab, NJ Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, penulis buku yang melegenda, Al-Muqaddimah. Ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H itu memiliki nama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut (Yaman) yang bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M, setelah semenanjung itu ditaklukan Islam.

Setelah Spanyol direbut penguasa Kristen, keluarga besar Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko dan kemudian menetap di Tunisia. Di kota itu, keluarga Ibnu Khaldun dihormati pihak istana dan tinggal di lahan milik dinasti Hafsiah. Sejak terlahir ke dunia, Ibnu Khaldun sudah hidup dalam komunitas kelas atas.

Ibnu Khaldun hidup pada masa peradaban Islam berada diambang degradasi dan disintegrasi. Kala itu, Khalifah Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun.

Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri. Sejak kecil, ia sudah menghafal Alquran dan menguasai tajwid. Selain itu, dia juga menimba ilmu agama, fisika, hingga matematika dari sejumlah ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dalam semua bidang studi.

Studinya kemudian terhenti pada 749 H. Saat menginjak usia 17 tahun, tanah kelahirannya diserang wabah penyakit pes yang menelan ribuan korban jiwa. Akibat peristiwa yang dikenal sebagai Black Death itu, para ulama dan penguasa hijrah ke Maghrib Jauh (Maroko).

Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya Ibn Khaldun dalam pandangan Penulis Barat dan Timur memaparkan, di usia yang masih muda, Ibnu Khaldun sudah menguasi berbagai ilmu Islam klasik seperti filsafat, tasawuf, dan metafisika. Selain menguasai ilmu politik, sejarah, ekonomi serta geografi, di bidang hukum, ia juga menganut madzhab Maliki.

Sejak muda, Ibnu Khaldun sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai intrik politik. Pada masa itu, Afrika Utara dan Andalusia sedang diguncang peperangan. Dinasti-dinasti kecil saling bersaing memperebutkan kekuasaan, di saat umat Islam terusir dari Spanyol. Tak heran, bila dia sudah terbiasa mengamati fenomena persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan.

Di usianya yang ke-21, Ibnu Khaldun sudah diangkat menjadi sekretaris Sultan Al-Fadl dari Dinasti Hafs yang berkedudukan di Tunisia. Dua tahun kemudian, dia berhenti karena penguasa yang didukungnya itu kalah dalam sebuah pertempuran. Ia lalu hijrah ke Baskarah, sebuah kota di Maghrib Tengah (Aljazair).

Ia berupaya untuk bertemu dengan Sultan Abu Anam, penguasa Bani Marin dari Fez, Maroko, yang tengah berada di Maghrib Tengah. Lobinya berhasil. Ibnu Khaldun diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan sekretaris sultan setahun kemudian. Ia menduduki jabatan itu selama dua kali dan sempat pula dipenjara. Ibnu Khaldun kemudian meninggalkan negeri itu setelah Wazir Umar bin Abdillah murka.

Ia kemudian terdampar di Granada pada 764 H. Sultan Bani Ahmar menyambut kedatangannya dan mempercayainya sebagai duta negar di Castilla, sebuah kerajaan Kristen yang berpusat di Seville. Tugasnya dijalankan dengan baik dan sukses. Namun tak lama kemudian, hubungannya dengan Sultan kemudian retak.

Dua tahun berselang, jabatan strategis kembali didudukinya. Penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad mengangkatnya menjadi perdana menteri sekaligus, khatib dan guru di Bijayah. Setahun kemudian, Bijayah jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair). Ibnu Khaldun lalu hijrah ke Baskarah.

Ia kemudian berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad yang isinya akan memberi dukungan. Tawaran itu disambut hangat Sultan dan kemudian memberinya jabatan penting. Iming-iming jabatan itu ditolak Ibnu Khaldun, karena akan melanjutkan studinya secara otodidak. Ia bersedia berkampanye untuk mendukung Abu Hammu. Sikap politiknya berubah, tatkala Abu Hammu diusir Sultan Abdul Aziz.

Ibnu Khaldun kemudian berpihak kepada Abdul Aziz dan tinggal di Baskarah. Tak lama kemudian, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu. Ia lalu menyelamatkan diri ke Fez, Maroko pada 774. Saat Fez jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, ia kembali pergi ke Granada buat yang kedua kalinya. Namun, penguasa Granada tak menerima kehadirannya.

Ia balik lagi ke Tilmisan. Meski telah dikhianati, namun Abu Hammu menerima kehadiran Ibnu Khaldun. Sejak saat itulah, Ibnu Khaldun memutuskan untuk tak berpolitik praktis lagi. Ibnu Khaldun lalu menyepi di Qa’lat Ibnu Salamah dan menetap di tempat itu sampai tahun 780 H. Dalam masa menyepinya itulah, Ibnu Khaldun mengarang sejumlah kitab yang monumental.

Di awali dengan menulis kitab Al-Muqaddimah yang mengupas masalah-masalah sosial manusia, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum). Pada 780 H, Ibnu Khaldun sempat kembali ke Tunisia. Di tanah kelahirannya itu, ia sempat merevisi kitab Al’Ibar.

Empat tahun kemudian, ia hijrah ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekisruhan politik di Maghrib. Di Kairo, Ibnu Khaldun disambut para ulama dan penduduk. Ia lalu membentuk halaqah di Al-Azhar. Ia didaulat raja menjadi dosen ilmu Fikih Mazhab Maliki di MadrasahQamhiyah. Tak lama kemudian, dia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan.

Ibnu Khaldun sempat mengundurkan diri dari pengadilan kerajaan, lantaran keluarganya mengalami kecelakaan. Raja lalu mengangkatnya lagi menjadi dosen di sejumlah madrasah. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kembali menjadi ketua pengadilan dan kembali mengundurkan diri. Pada 803 H, dia bersama pasukan Sultan Faraj Barquq pergi ke Damaskus untuk mengusir Timur Lenk, penguasa Mogul.

Berkat diplomasinya yang luar biasa, Ibnu Khaldun malah bisa bertemu Timur Lenk yang dikenal sebagai penakluk yang disegani. Dia banyak berdiskusi dengan Timur. Ibnu Khaldun, akhirnya kembali ke Kairo dan kembali ditunjuk menjadi ketua pengadilan kerajaan. Ia tutup usia pada 25 Ramadhan 808 H di Kairo. Meski dia telah berpulang enam abad yang lalu, pemikiran dan karya-karyanya masih tetap dikaji dan digunakan hingga saat ini.

AL MUQADDIMAH, SEBUAH KARYA ABADI

Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya menyepi di Qal’at Ibn Salamah istana yang terletak di negeri Banu Tajin selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itu, Ibnu Khaldun berhasil merampungkan sebuah karya monumental yang hingga kini masih tetap dibahas dan diperbincangkan.

`’Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,” ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan.

Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.

Menurut Ahmad Syafii Ma’arif, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `’Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.” Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama .

Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim.
Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah.
Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-`Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur.

Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.

`’Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,” papar Syafii Ma’arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Almuqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.

Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; `’Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.”

Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).

Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. `’Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.

KONSEP EKONOMI IBNU KHALDUN

Ibnu Khaldun juga banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu ekonomi. Tak heran, bila dia juga dijuluki sebagai `Bapak Ekonomi’.
Gagasan dan pemikiran tentang ekonomi Ibnu Khaldun telah mengilhami sejumlah ekonom terkemuka. Empat abad setelah Ibnu Khaldun berpulang, pemikirannya tentang ekonomi muncul kembali melalui Adam Smith serta David Ricardo.

Setelah itu, Karl Marx serta John Maynard Keynes juga banyak menyerap pemikiran Ibnu Khaldun. Salah satu pengaruh pemikiran Ibnu Khaldun yang diadopsi Karl Marx antara lain, mengenai dialektika yang saling mempengaruhi antara pemikiran dan dasar material. Selain itu, mengenai beberapa cara spesifik variabel ekonomi, khususnya dengan peran tenaga kerja dalam hubungan sosial.

Ibnu Khaldun begitu menghormati tenaga kerja sebagai salah satu dari dasar utama masyarakat dan diskusi tentang profit sebagai nilai yang didapat dari pekerjaan manusia. Pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun menggabungkan hablum minallah dan hablum minnanas.

Ia mendefinisikan ekonomi secara sosial sebagai aktivitas ekonomi yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan sebaliknya mereka mempengaruhinya. Prespektif tersebut digunakan Ibn Khaldun dalam menganalisis nilai pekerja manusia, dalam arti mata pencaharian dan stratifikasi ekonomi sosial. Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa organisasi sosial adalah ‘sesuatu yang diperlukan’ bagi usaha manusia dan keinginannya untuk hidup dan bertahan hidup ‘dengan bantuan makanan’. Untuk mencapai tujuan ini kemampuan individu saja tidaklah cukup.

Dalam Al-Muqqadimah, Ibnu Khaldun juga memberikan keutamaan, bukan eksklusif, posisi faktor ekonomi dalam sejarah. Aktivitas intelektual dari manusia, seni dan ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku moralnya, gaya hidup dan selera, standar kehidupan dan adat didefinisikan Ibnu Khaldun melalui derajat atau tingkatan produksi.

Sumber : Republika Online

Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Khaldun
http://en.wikipedia.org/wiki/Muqaddimah
http://www.republika.co.id/berita/34525/Ibnu_Khaldun_Peletak_Dasar_Sosiologi_Islam

Posted in Khazanah Islam. Tagged bapak ekonomi duniaekonomi islamibnu khaldunilmuwan islam,ilmuwan muslimperadaban islamsejarah islamsosiologi islam.

Ibnu Sina, Bapak Kedokteran dunia

ibn sina

Dialah yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya.

Dunia Islam memanggilnya dengan nama Ibnu Sina. Namun di kalang an orangorang Barat, ia dikenal dengan panggil an Avicenna. Ia merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10. Selain itu, Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif.

Dan sebagian besar karyanya adalah tentang filsafat dan pengobatan. Bagi banyak orang,Ibnu Sina adalah Bapak Pengobatan Modern. Selain itu, masih banyak lagi sebutan lainnya yang ditujukan padanya, terutama berkaitan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib atau The Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 H/ 980 M di Afsyanah, sebuah kota kecil di wilayahUzbekistan saat ini. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M).

Sejak kecil, Ibnu Sina sudah menunjukkan kepandaian yang luar biasa. Di usia 5 tahun, ia telah belajar menghafal Alquran. Selain menghafal Alquran, ia juga belajar mengenai ilmu-ilmu agama. Ilmu kedokteran baru ia pelajari pada usia 16 tahun. Tidak hanya belajar mengenai teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit dan melalui perhitungannya sendiri, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan.

Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 17 tahun. Kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Banyak tabib dan ahli yang hidup pada masa itu tidak berhasil menyembuhkan penyakit sang raja.

Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, paling tidak untuk sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas makin bertambah.

Ibnu Sina selain terkenal sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama dan kedokteran, ia juga ahli dalam bidang matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, metafisika dan filosofi. Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan.

Tak hanya itu, ia juga mendalami masalah-masalah fikih dan menafsirkan ayat-ayat Alquran. Ia banyak menafsirkan ayat-ayat Alquran untuk mendukung pandangan-pandangan filsafatnya.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal. Setelah kematian ayahnya ia mulai berkelana, menyebarkan ilmu dan mencari ilmu yang baru. Tempat pertama yang menjadi tujuannya setelah hari duka itu adalah Jurjan, sebuah kota di Timur Tengah. Di sinilah ia bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan Al-Biruni. Ia kemudian berguru kepada Al-Biruni.

Setelah itu Ibnu Sina melanjutkan lagi perjalanannya untuk menuntut ilmu. Rayy danHamadan adalah kota selanjutnya, sebuah kota dimana karyanya yang spektakularQanun fi Thib mulai ditulis. Di tempat ini pula Ibnu Sina banyak berjasa, terutama pada raja Hamadan. Seakan tak pernah lelah, ia melanjutkan lagi pengembaraannya, kali ini daerah Iran menjadi tujuannya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya itu, banyak lahir karya-karya besar yang memberikan manfaat besar pada dunia ilmu kedokteran khususnya.

Tentu tak berlebihan bila Ibnu Sina mendapat julukan Bapak Kedokteran Dunia. Karena perkembangan dunia kedokteran awal tidak bisa terlepas dari nama besar Ibnu Sina. Ia juga banyak menyumbangkan karya-karya asli dalam dunia kedokteran. Dalam Qanun fi Thib misalnya, ia menulis ensiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Ia juga orang yang memperkenalkan penyembuhan secara sistematis, dan ini dijadikan rujukan selama tujuh abad lamanya.

sina qanun

Ibnu Sina pula yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Dan dari sana ia berkesimpulan bahwa, setiap bagian tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki kuku saling berhubungan.

Ia adalah orang yang pertama kali merumuskan, bahwa kesehatan fisik dan kesehatan jiwa berada kaitan dan saling mendukung. Lebih khusus lagi, ia mengenalkan dunia kedokteran pada ilmu yang sekarang diberi nama pathologydan farmasi, yang menjadi bagian penting dari ilmu kedokteran. Selain The Canon of Medicine, ada satu lagi kitab karya Ibnu Sina yang tak kalah dahsyatnya. Asy-Syifa, begitu judul kitab karya Ibnu Sina ini.

Sebuah kitab tentang cara-cara pengobatan sekaligus obatnya. Kitab ini di dunia ilmu kedokteran menjadi semacam ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Dalam bahasan latin, kitab ini di kenal dengan nama Sanati.

fittibb

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H/1037 M di kota Hamdan, Iran. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia. Hampir sebelas abad sudah Ibnu Sina meninggalkan kita, tapi ilmu dan karyanya sampai sekarang masih berguna.

Mendapat banyak gelar 
Kebesaran nama Ibnu Sina terlihat dari beberapa gelar yang diberikan orang kepadanya. Di bidang filsafat ia mendapat gelar asy-Syaikh ar-Rais (Guru Para Raja). Dalam bidang filsafat, ia memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya.

Ketajaman pemikiran dan keda -laman keyakinan keagamaannya seca ra simultan mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat. Sementara Al-Ghazali menjulukinya sebagai filsuf yang terlalu banyak berpikir.

Seperti pendahulunya, al-Farabi (870-950 M), Ibnu Sina mengakui bahwa alam diciptakan secara emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan menciptakan alam dalam arti memancarkannya. Ia juga mengemuka kan pemikiran filsafat tentang jiwa (annafs) dan kenabian. Ibnu Sina berpendapat bahwa nabi adalah manusia terunggul dan pilihan Tuhan. Filsuf hanya dapat menerima ilham, sedangkan nabi menerima wahyu. Oleh karena itu, ajaran nabi harus menjadi pedoman hidup manusia.

Di bidang kedokteran ia mendapat julukan Pangeran Para Dokter dan Raja Obat. Banyak para pembesar negeri pada masa itu yang mengundangnya untuk memberikan pengobatan. Para pembesar negeri tersebut di antaranya Ratu Sayyidah serta Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadan, dan Alaud Dawla dari Isfahan. Karenanya dalam dunia Islam, ia dianggap sebagai puncah atau Bapak ilmu kedokteran.

Bukan hanya dalam filsafat dan kedokteran saja Ibnu Sina memberikan andil dan pemikirannya. Ia juga turut serta ambil bagian dan memberikan andil pada berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya, di antaranya yang menonjol adalah ilmu astronomi. Ibnu Sina menambahkan dalam bukunya al-Magest (buku tentang astronomi) berbagai problem yang belum dibahas, mengajukan beberapa keberatan Euclides, meragukan pandanganAristoteles tentang kesamaan bintang-bintang tak bergerak, kesamaan satuan jaraknya, dan sebagainya. Untuk itu di dalam buku Asy-Syifa, ia menguraikan bahwa bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada pada satu globe.

Ibnu Sina juga banyak membuat rumusan-rumusan tentang pembentukan gunung-gunung, barang-barang tambang, di samping menghimpun berbagai analisis tentang fenomena atmosfer, seperti angin, awan, dan pelangi. Sementara orang yang sezaman dengannya tidak mampu menambahkan sesuatu ke dalam bidang penelitian mereka.

Karya Sang Dokter

Sepanjang hayatnya, Ibnu Sina banyak menu lis berbagai macam karya yang berkaitan dengan bidang yang ditekuninya. Jumlahnya mencapai 250 karya, baik dalam bentuk buku maupun risalah.

Karya-karyanya itu antara lain :
Qanun fi Thib 
Kitab ini ditulis ketika ia menuntut ilmu di Rayy dan Hamadan. Qanun fi Thib yang dalam bahasa Inggris telah diterjemahkan dengan nama The Canon of Medicine, berisi tentang berbagai macam cara penyembuhan dan obat-obatan. Didalamnya tertulis jutaan item tentang pengobatan dan oabt-obatan. Karena itu, ada pula yang menamakan kitabnya ini sebagaiEnsiklopedia Pengobatan.

Al-Magest
Buku ini berkaitan dengan bidang astronomi. Diantara isinya, bantahan terhadap pandangan Euclides, serta meragukan pandangan Aristoteles yang menyamakan bintang-bintang tak bergerak. Menurutnya, bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada dalam satu globe.

Asy-Syifa
Dalam buku Asy-Syifa ini, Ibnu Sina juga menuliskan tentang masalah penyakit dan pengobatan sekaligus obat yang dibutuhkan berkaitan dengan penyakit bersangkutan. Sama seperti Qanun fi Thib, kitab Asy-Syifa ini juga dikenal dalam dunia kedokteran sebagai Ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Kitab ini terdiri dari 18 jilid.

De Conglutineation Lagibum
Kitab ini ditulis dalam bahasa latin, yang membahas tentang masalah penciptaan alam. Diantaranya tentang asal nama gunung. Menurutnya, kemungkinan gunung tercipta karena dua sebab. Pertama, menggelembungnya kulit luar bumi lantaran goncangan hebat gempa. Dan kedua, karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses itu mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan
bumi. sya/dia/taq

Sumber : Republika Online

Referensi tentang Ibnu Sina lainnya : http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina

Posted in Khazanah Islam. Tagged asal usul kedokteran modernavicennabapak dokter duniadokter muslimibnu sinailmuwan muslimislamkedokteran dan islamkedokteran islampakar kedokteran,peradaban islam.

Musik, warisan peradaban Islam

4alfarabi

Seni musik berkembang begitu pesat di era keemasan Dinasti Abbasiyah. Perkembangan seni musik pada zaman itu tak lepas dari gencarnya penerjemahan risalah musik dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Selain itu, sokongan dan dukungan para penguasa terhadap musisi dan penyair membuat seni musik makin menggeliat. Apalagi di awal perkembangannya, musik dipandang sebagai cabang dari matematika dan filsafat. Boleh dibilang, peradaban Islam melalui kitab yang ditulis Al-Kindi merupakan yang pertama kali memperkenalkan kata ‘musiqi’Al-Isfahani (897 M-976 M) dalam Kitab Al-Aghanimencatat beragam pencapaian seni musik di dunia Islam.

Meski dalam Islam terdapat dua pendapat yang bertolak belakang tentang musikada yang mengharamkan dan ada pula yang membolehkan. Pada kenyataannya, proses penyebaran agama Islam ke segenap penjuru Jazirah Arab, Persia, Turki, hingga India diwarnai dengan tradisi musik. Selain telah melahirkan sederet musisi ternama, seperti Sa’ib Khathir (wafat 683 M), Tuwais (wafat 710 M), Ibnu Mijjah ( wafat 714 M), Ishaq Al- Mausili (767 M-850 M), serta Al-Kindi (800 M-877 M), peradaban Islam pun telah berjasa mewariskan sederet instrumen musik yang terbilang penting bagi masyarakat musik modern. Berikut ini adalah alat musik yang diwariskan musisi Islam di zaman kekhalifahan dan kemudian dikembangkan musisi Eropa pasca- Renaisans:
Alboque atau Alboka
Keduanya merupakan alat musik tiup terbuat dari kayu berkembang di era keemasan Islam. Alboka dan alboque berasal dari bahasa Arab, ‘albuq’, yang berarti terompet. Inilah cikal bakal klarinet dan terompet modern. Menurut Henry George Farmer (1988) dalam Historical facts for the Arabian Musical Influence, instrumen musik alboka dan alboque telah digunakan oleh musisi Islam di masa kejayaan. Instrumen musik tiup itu diperkenalkan umat Islam kepada masyarakat Eropa saat pasukan Muslim dari Jazirah Arab berhasil menaklukkan Semenanjung Iberia wilayah barat daya Eropa, terdiri atas Spanyol, Portugal, Andora, Gibraltar, dan sedikit wilayah Prancis. Tak heran, jika masyarakat Eropa meyakini bahwa alboque berasal dari Spanyol, khususnya Madrid.

Gitar, Kecapi, dan Oud
Maurice J Summerfield (2003) dalam bukunya bertajuk, The Classical Guitar, It’s Evolution, Players and Personalities since 1800, menyebutkan bahwa gitar modern merupakan turunan dari alat musik berdawai empat yang dibawa oleh masyarakat Muslim, setelah Dinasti Umayyah menaklukkan semenanjung Iberia pada abad ke-8 M. Oud kemudian berkembang menjadi kecapi modern.
Gitar berdawai empat yang diperkenalkan oleh bangsa Moor terbagi menjadi dua jenis di Spanyol, yakni guitarra morisca (gitar orang Moor) yang bagian belakangnya bundar, papan jarinya lebar, dan memeliki beberapa lubang suara. Jenis yang kedua adalah guitarra latina (gitar Latin) yang menyerupai gitar modern dengan satu lubang suara.

Alat musik Oud juga populer di wilayah Azerbaijan. Masyarakat di wilayah itu menyebut alat musik petik ini dengan sebutan Ud. Masyarakat Eropa Barat mulai mengenal dan menggunakan Oud sejak tahun 711 M.
Alat musik petik khas umat Islam ini hampir sama dengan pandoura yang dikembangkan peradaban Yunani Kuno atau pandura alat musik bangsa Romawi. Zyriab merupakan pemain Oud termasyhur di Andalusia. Dia tercatat sebagai pendiri sekolah musik pertama di Spanyol. Menurut cendikiawan Islam yang juga musisi terkemuka era keemasan, Al-Farabi, Oud ditemukan oleh Lamech cucu keenam Nabi Adam AS.

Hurdy Gurdy dan Instrumen Keyboard Gesek
Hurdy Gurdy boleh dibilang sebagai nenek moyang alat musik piano. Alat musik ini ternyata juga merupakan warisan dari peradaban Islam di zaman kekhalifahan.Marianne Brocker dalam sebuah teori yang diajukannya menyebutkan bahwa instrumen yang mirip dengan hurdy gurdy pertama kali disebut dalam risalah musik Arab. Manuskrip itu ditulis oleh Al-Zirikli pada abad ke-10 M. Alat Musik Organ Jarak Jauh Menurut George Sarton, alat musik organ hidrolik jarak jauh pertama kali disebutkan dalam risalah Arab berjudul, Sirr Al-Asrar. Alat musik ini dapat didengar hingga jarak 60 mil. Manuskrip berbahasa Arab itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Roger Bacon di abad ke-13 M.

Instrumen Musik Mekanik dan Organ Hidrolik Otomatis Kedua alat musik itu ditemukan oleh Banu Musa bersaudara. Ilmuwan Muslim di zaman Abbasiyah ini berhasil menciptakan sebuah organ yang digerakkan oleh tenaga air. Secara otomatis tenaga air itu memindahkan silender sehingga menghasilkan musik. Prinsip kerja dasar alat musik ini, papar Charles B Fowler, masih menjadi rujukan hingga paruh kedua abad ke-19 M

.timpani

Banu Musa bersaudara juga mampu menciptakan peniup seruling otomatis. Inilah mesin pertama yang bisa diprogram. Menurut Francoise Micheau dalam bukunya berjudul, The Scientific Institutions in the Medieval Near East, Banu Musa mengungkapkan penemuannya itu dalam kitab bertajuk, Book of Ingenious Devices.
Timpani, Naker, dan Naqareh Alat musik timpani (tambur atau genderang) 
Menurut Henry George Farmer (1988) dalam bukunya, Historical facts for the Arabian Musical Influence, cikal bakal timpani berasal dari Naqareh Arab. Alat musik pukul itu diperkenalkan ke benua Eropa pada abad ke-13 M oleh orang Arab dan Tentara Perang Salib. Biola, Rebec, dan Rebab Biola modern yang saat ini berkembang pesat di dunia Barat ternyata juga berawal dan berakar dari dunia Islam. Alat musik gesek itu diperkenalkan oleh orang Timur Tengah kepada orang Eropa pada masa kejayaan Kekhalifahan Islam.

Biola pertama berasal dari Rebec yang telah digunakan oleh musisi Islam sejak abad ke-10 M.
Cikal bakal biola juga diyakini berasal dari rebab, alat musik asli dari Arab.
Konon, Al-Farabi merupakan penemu rebab (rebec). Peradaban Islam di masa

biola

keemasan telah menyumbangkan beragam warisan penting bagi masyarakat modern. Masyarakat Barat ternyata tak hanya berutang budi karena telah menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan umat Islam di zaman kekhalifahan, tapi juga di bidang musik dan seni rupa.Pencapaian yang tinggi di bidang musik menunjukkan betapa masyarakat Muslim telah mencapai peradaban yang sangat tinggi di abad pertengahan.

Ishaq Al-Mausili

Musisi Termasyhur Penemu Solmisasi

Ishaq Al-Mausili (wafat 850 M) adalah salah seorang musisi Muslim terbesar di kancah dunia musik Arab pada zaman kekhalifahan. Darah seni menetes dari ayahnya, Ibrahim Al-Mausili (wafat 804 M), yang juga seorang musisi besar.

Ishaq terlahir di Al-Raiy, Persia Utara. Saat itu, sang ayah tengah mempelajari musik Persia. Sang ayah terus mengembara demi mempelajari dan mengembangkan seni musik yang sangat dicintainya.
Suatu waktu, Ibrahim membawa putranya yang mash kecil ke Kota Baghdad metropolis intelektual dunia. Kelak, di pusat pemerintahan Ke – khalifahan Abbasiyah itulah nama Ishaq melambung sebagai seorang musisi legendaris. Kisah masa kecilnya juga tercatat dengan baik. Ishaq cilik memulai pendidikannya dengan mempelajari Alquran dari Al-Kisa’i dan Al-Farra.

Dari Hushaim ibnu Bushair, Ishaq mempelajari tradisi dan budaya. Se – dangkan, pelajaran sejarah diperoleh nya dari Al-Asmai’i dan Abu Ubaidah Al-Muthanna. Sejak kecil, ia sudah kepincut dengan musik. Na – mun, sang ayah bukanlah satu-sa tunya guru yang memperkenalkan dan mengajarinya seni musik. Menurut Miss Schlesinger, Ishaq mempelajari musik dari sang paman, Zalzal, dan Atika binti Shuda yang juga musisi terkemuka. Ishaq dikenal sebagai sosok manusia yang kaya dengan budaya. Ia adalah musisi yang intelek. Hal itu dibuktikan dengan perpustakaan pribadinya yang tercatat se bagai yang terbesar di Baghdad.

Ishaq telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan ilmu musik. Ternyata, dialah musisi yang memperkenalkan solmisasi: do re mi fa sol la si do.

Ishaq Al-Mausili memperkenalkan solmisasi dalam bukunya, Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songs, yang begitu populer di Barat. Musisi Muslim lainnya yang juga memperkenalkan solmisasi adalah Ibn Al-Farabi (872 M-950 M) dalam Kitab Al-Mausiqul Kabir. Selain itu, Ziryab (789 M-857 M), seorang ahli musik dan ahli botani dari Baghdad, turut mengembangkan penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol jauh sebelum Guiddo Arezzo muncul de ngan notasi Guido’s Handnya.

Peradaban Barat kerap mengklaim bahwa Guido Arezzo adalah musisi yang pertama kali memperkenalkan solmisasi lewat notasi Guido’s Hand. Ternyata, notasi Guido’s Handmilik Guido Arezzo hanyalah jiplakan dari notasi arab yang te

biollah ditemukan dan digunakan sejak abad ke-9 oleh para ilmuwan Muslim.

Para ilmuwan yang telah menggunakannya, antara lain Yunus Alkatib (765 M), Al-Khalil (791 M), Al- Ma’mun (wafat 833 M), Ishaq Al- Mausili (wafat 850 M), dan Ibn Al- Farabi (872 M-950 M).
Ibn Firnas (wafat 888 M)
 pun turut berperan dalam penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol. Karena, ia adalah orang yang memperkenalkan masyarakat Spanyol terhadap musik oriental dan juga merupakan orang yang pertama kali mengajarkannya di sekolah-sekolah Andalusia.

Guido Arezzo mengetahui solmisasi tersebut dengan mempelajari Catalogna, sebuah buku teori musik berbahasa Latin yang berisi kumpulan penemuan ilmuwan Muslim di bidang musik. Solmisasi tersebut ditulis dalam Catalogna yang diterbitkan di Monte Cassinopada abad ke-11. Monte Cassino merupakan daerah di Italia yang pernah dihuni masyarakat Muslim dan juga pernah disinggahi oleh Constantine Afrika. Lagi-lagi, peradaban Barat mencoba memanipulasi sejarah.

Sumber : Republika Online

Posted in Khazanah Islam. Tagged al farabial kindialat musik islamalbokaasal usul musikbiola,gitarhurdy gurdyishaq al mausilikecapimusik islamimusisi islamperadaban islamtamburtimpani.

Terapi Musik pada peradaban Islam

NOVEMBER 4, 2009

9

Seni musik yang berkembang begitu pesat di era keemasan Islam, tak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801–873  M) dan  al-Farabi (872–950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi.

Lalu sebenarnya apa yang disebut dengan terapi musik?  Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang dilakukan seorang terapis dengan menggunakan musik untuk membantu memulihkan kesehatan pasiennya.  Sejak kapan peradaban Islam mengembangkan terapi musik?  Dan benarkah musik bisa menjadi alat terapi untuk menyembuhkan penyakit?

R Saoud dalam tulisannya bertajuk The Arab Contribution to the Music of the Western World menyebut  al-Kindi sebagai psikolog Muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik.

”Dengan terapi musik, al-Kindi mencoba untuk menyembuhkan seorang anak yang mengalami quadriplegic atau lumpuh total,” papar Saoud. Terapi musik juga dikembangkan ilmuwan Muslim lainnya yakni al-Farabi (872-950 M)Alpharabius – begitu peradaban Barat biasa menyebutnya – menjelaskan tentang terapi musik dalam risalah yang berjudulMeanings of Intellect.

Amber Haque (2004) dalam tulisannya bertajuk Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists”, Journal of Religion and Health mengungkapkan, dalam manuskripnya itu, al-Farabi  telah membahas efek-efek musik terhadap jiwa.

Terapi musik berkembang  semakin pesat  di dunia Islam  pada era Kekhalifahan Turki Usmani berkuasa.  Prof Nil Sari, sejarawan kedokteran Islam dari  Fakultas Kedokteran  University Cerrahpasa Istanbul mengungkap perkembangan terapi musik di masa kejayaan Turki Usmani.

Menurut Prof Nil Sari, gagasan dan pemikiran yang dicetuskan ilmuwan Muslim seperti al-Razi, al-Farabi dan Ibnu Sina tentang musik sebagai alat terapi dikembangkan para ilmuwan di zaman kejayaan Turki Usmani. ”Mereka antara lain; Gevrekzade (wafat 1801), Suuri (wafat 1693), Ali Ufki (1610-1675), Kantemiroglu (1673-1723) serta Hasim Bey (abad ke-19 M).

”Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Ottoman itu telah melakukan studi mengenai musik sebagai alat untuk pengobatan,” papar Prof Nil Sari.  Menurut dia, para ilmuwan dari Turki Usmani itu sangat tertarik untuk mengembangkan efek musik pada pikiran dan badan manusia.

Tak heran, jika  Abbas Vesim (wafat 1759/60) dan Gevrekzade telah mengusulkan agar musik dimasukan dalam pendidikan kedokteran. Keduanya berpendapat, seorang dokter yang baik harus melalui latihan musik.  Usulan Vesim dan Gevrekzade itu diterapkan di universitas-universitas hingga akhir abad pertengahan. Sekolah kedokteran pada saat itu mengajarkan musik serta aritmatika, geometri serta astronomi kepada para mahasiswanya.


Teori Terapi Musik

Menurut Prof Nil Sari, masyarakat Turki pra-Islam meyakini bahwa kosmos diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kata ”ku” / ”kok” (suara). Mereka meyakini bahwa awal terbentuknya kosmos berasal dari suara. Menurut kepercayaan Islam, seperti yang tertulis dalam Alquran, Allah SWT adalah Pencipta langit dan bumi.

”…Dan bila Dia berkehendak  (untuk menciptakan) sesuatu, maka  (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’. Lalu jadilah ia.”  (QS: al-baqarah:117).

Setelah Islam bersemi di Turki, masyarakat negeri itu, masih tetap meyakini kekuatan suara. Inilah yang membuat peradaban Islam di era Turki Usmani menyakini bahwa musik dapat menjadi sebuah alat terapi yang dapat menyeimbangkan antara badan, pikiran dan emosi – sehingga terbentuk sebuah harmoni pada diri seseorang.

Prof Nil Sari mengungkapkan, para ahli terapi musik di zaman Ottoman menyakini bahwa pasien yang menderita penyakit tertentu atau emosi seseorang dengan temperamen tertentu  dipengaruhi oleh ragam musik tertentu. ”Para ahli musik di era Turki Usmani menyatakan, makam (tipe melodi) tertentu memiliki kegunaan pengibatan tertentu juga,”papar Prof Nil Sari.

Ada sekitar 80 ragam tipe melodi yang berkembang di masyarakat Turki Usmani. Sebanyak 12 diantaranya bisa digunakan sebagai alat terapi.  Menurut Prof Nil Sari,  dari teks-teks tua dapat disimpulkan bawa jenis musik tertentu dapat mengobati penyakit tetentu atau perasaan tertentu.

Pada era kejayaan Kesultanan Turki Usmani, terapi musik biasanya digunakan untuk beberapa tujuan, seperti; pengobatan kesehatan mental; perawatan penyakit organik, perbaikan harmoni seseorang  yakni menyeimbangkan kesehatan antara badan, pikiran dan emosi. Musik juga diyakini mampu menyebabkan seseorang tertidur, sedih, bahagia dan bisa pula memacu intelijensia.

Prof Nil Sari mengungkapkan, para ilmuwan di era Turki Usmani meyakini bahwa musik memiliki kekuatan dalam  proses alam,. Musik dapat berfungsi meningkatkan mood dan emosi secara keseluruhan. Uniknya, para ilmuwan di era Ottoman sudah mampu menetapkan jenis musik tertentu untuk penyekit tertentu. Misalnya, jenis musik huseynidapat mengobati demam. Sedangkan, jenis musik  zengule dan irak untuk mengobati meningitis.

Masyarakat Barat baru mengenal terapi musik pada abad ke-17 M. Adalah Robert Burton lewat karya klasiknya berjudul The Anatomy of Melancholy yang mengembangkan terapi musik di Barat. Menurut Burton, musik dan menari dapat menyembuhkan sakit jiwa, khususnya melankolia.

Malah, masyarakat Amerika Serikat (AS) baru mengenal terapi musik sekitar 1944. Pada saat itu, Michigan State University membuka program sarjana teapi musik. Sejak 1998, diAmerika telah berdiri The American Music Therapy Association (AMTA). Organisasi ini merupakan gabungan dari  National Association for Music Therapy (NAMT,  berdiri tahun 1950)  dan the American Association for Music Therapy (AAMT, berdiri 1971).

Terapi musik merupakan salah satu kontribusi peradaban Islam dalam dunia kesehatan dan kedokteran. Di era modern ini, musik tetap menjadi salah satu alat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Terapi musik menjadi salah satu bukti pencapaian para ilmuwan Muslim di era keemasan.

Musisi Muslim Pencetus Terapi Musik

Al-Kindi

Al-Kindi atau al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yaknial-Amin (809-813), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tasim, al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).

Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani.

Ketika Khalifah al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, al-Mu’tasim, posisi al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.

Menurut al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Al-Farabi

Second teacher alias mahaguru kedua. BegitulahPeter Adamson pengajar filsafat di King’s College London, Inggris, menjuluki al-Farabi sebagai pemikir besar Muslim pada abad pertengahan. Dedikasi dan pengabdiannya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan telah membuatnya didaulat sebagai guru kedua setelah Aristoteles: pemikir besar zaman Yunani.

Sosok dan pemikiran al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Dialah filosof Islam pertama yang berhasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam. Sehingga, bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemikirannya begitu berpengaruh besar terhadap dunia Barat.

”Ilmu Logika al-Farabi memiliki pengaruh yang besar bagi para pemikir Eropa,” ujar Carra de Vaux. Tak heran, bila para intelektual merasa berutang budi kepada Al-Farabi atas ilmu pengetahuan yang telah dihasilkannya. Pemikiran sang mahaguru kedua itu juga begitu kental mempengaruhi pikiran-pikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rush.

Al-Farabi atau  masyarakat Barat mengenalnya dengan sebutan Alpharabius memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh al-Farabi. Tak seperti Ibnu Khaldun yang sempat menulis autobiografi, Al-Farabi tidak menulis autobiografi dirinya.

Tak ada pula sahabatnya yang mengabadikan latar belakang hidup sang legenda itu, sebagaimana Al-Juzjani mencatat jejak perjalanan hidup gurunya Ibnu Sina.Tak heran, bila muncul beragam versi mengenai asal-muasal Al-Farabi. Ahli sejarah Arab pada abad pertengahan, Ibnu Abi Osaybe’a, menyebutkan bahwa ayah Al-Farabi berasal dari Persia. Mohammad Ibnu Mahmud Al-Sahruzi juga menyatakan Al-Farabi berasal dari sebuah keluarga Persia.